AS-SHABUR di sini AL MUNTAQIM di sana
Lalu apa yang pantas dilakukan terhadap orang yang keterlaluan sepanjang hidupnya?. Diberi kesempatan bertahun-tahun dalam hidupnya untuk bertaubat dan memperbaiki diri tak pernah dipakai. Padahal bagaimanapun dzalimnya tak pernah Allah langsung menghukum. Hari ini berbohong, besok berbohong, lusa berbohong seperti hari-hari di masa sebelumnya. Hari ini menggunjing, besok menggunjing, lusa menggunjing seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini lupa ibadah, hari besok segan ibadah, hari lusa terlalu sibuk untuk ibadah seperti hari-hari di masa sebelumnya. Tapi Allah adalah As-Shabur, Maha Sabar. Terus diberi kesempatan untuk bertaubat. Allah tidak lalu mentulikan telinganya sehingga suara adzan masih dapat dia dengar, Allah tidak membutakan matanya sehingga Al Quran masih dapat dibaca olehnya, Allah tidak melumpuhkan kakinya sehingga masjid dan majlis taklim masih dapat didatangi olehnya, kesehatan masih diberikan untuknya, rizki masih dilimpahkan untuknya, tapi… kesempatan itu diambil dan dilakukan, waktu yang diberikan tak juga dipergunakan untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahannya. Tapi Allah adalah As-Shabur, Maha Sabar. Kadang dia diingati dengan sedikit sakit dan musibah. Tapi hanya selama sakit dan musibah itu dia ingat dan beristighfar. Setelah musibah berlalu, kembali waktu dia sia-siakan untuk berlaku sesuai hawa nafsunya saja, padahal itu merupakan perbuatan yang mendzalimi diri sendiri. Tapi Allah adalah As-Shabur, Maha Sabar. Sesekali Allah perlihatkan kemurkaannya dengan bencana yang lebih besar, agar terbuka mata manusia tentang Kebesaran-Nya, agar manusia ingat tentang hari bumi berguncang seguncang-guncangnya (bukan hanya di satu titik episentrum), agar ingat ketika gunung beterbangan (tak sekedar meletuskan magmanya), agar ingat ketika laut ditumpahkan (bukan sekedar diluapkan sebagian seperti tsunami). Agar manusia kembali kepada fitrah untuk berhamba kepada Allah (bukan kepada hawa nafsunya), untuk saling mendukung satu dengan yang lain (bukan saling menghisap dan memanfaatkan), untuk tolong menolong dalam kebajikan dan takwa (bukan dalam kemunkaran), agar kembali kepada taqwa (bukan durhaka). Namun pelajaran besar itupun seperti tak terlalu berpengaruh. Jangankan pelajaran dari ustadz, murabbi dan ulama, pelajaran dari Allah itu pun tetap tak merubah kedzaliman yang dilakukan. Kebohongan, penipuan, perpecahan, perusakan, kemunkaran terus berlaku.
Padahal Allah adalah Ad-Dhaar, Maha Menghukum. Padahal Allah adalah Al Muntaqim, Maha Menyiksa.
Dan Allah memperlihatkan Kemaha Penghukum dan Kemaha Penyiksaan-Nya di kehidupan abadi, setelah begitu keterlaluannya manusia diberi kesempatan, disabari dan dikasihi namun tak jua mau tahu diri. Kehidupan abadi itu tak jauh karena dimulai begitu kita mati (siapa yang bisa menghindari ini?). Alam kubur yang tempat transit pun bisa ribuan tahun!. Maka ketika kita masuki alam akhirat, saat itu kita akan merasakan hidup di dunia tak lebih hanya sesaat di sore atau pagi hari (al ayat).
Maha Menghukum dan Maha Menyiksa Allah bisa terlihat dalam penggal ayat-ayat berikut:
- Tidaklah (dihiraukan rintih dan keluhannya) melainkan ditambah azab dan siksa untuk mereka. (al ayat)
- (siksa itu tanpa batas, siksa itu tak terbayangkan) mereka tidak mati dan tidak hidup di dalamnya.(al ayat)
- Mereka menyesal mengapa tak menjadi tanah saja dulu (al ayat)
- Mereka berharap bisa kembali ke dunia untuk melakukan kebajikan. (namun apa arti harapan itu?) (al ayat)
- Mereka mau menebus dengan cara apa saja untuk terbebas dari satu siksa jarum neraka di satu pori-porinya (sementara siksa telah menimpa sekujur tubuhnya). (al hadist)
Naudzubillah min dzalik…
“Yang terbaik adalah segera ‘bersujud’ mumpung kita masih diberi waktu”, begitu penggal syair bijak dari Ebiet G Ade.
