Cintailah apapun dan siapapun sesukamu, tapi ingatlah satu saat engkau akan berpisah dengannya. Jika bukan dia yang meninggalkanmu, maka engkau yang akan meninggalkannya. Maka milikilah batas kecintaan, jangan melampaui batas karena begitu batas itu terlampaui maka akan bersifat destruktif.
Bukan tidak boleh mencintai, bahkan mencintai merupakan kewajiban, merupakan hal yang diperintahkan (kutipan hadist di atas pun memerintahkan, cintailah…). Cintailah apapun dan siapapun. Cintailah saudaramu seperti mencintai diri sendiri karena “tidaklah sempurna iman seseorang hingga mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri”. Cintailah apa yang ada di bumi (bahkan tumbuhan, hewan dan mahluk tak bernyawa), niscaya engkau akan dicintai oleh yang ada di langit. Semakin besar kasih sayang kita, semakin tinggi kualitas kemanusiaan kita. Semakin luas kasih sayang kita, semakin lapang kehidupan kita. Semakin tak membeda-bedakan dan pilih-pilih kita menyayangi semakin tuluslah kasih sayang itu.
Stressing berikutnya adalah, ingat kasih sayang dengan mahluk itu tak abadi jika tidak dinisbahkan kepada Yang Maha Abadi. Kasih sayang itu akan abadi jika diikat kepada Yang Abadi. Kasih sayang itu menjadi bernilai ukhrawi jika dibingkai dalam cinta Ilahi, sebagai refleksi kecintaan kita kepada Ilahi, Sang Maha Mencintai.
Jika tidak, maka kasih sayang itu, akan cepat berlalu, akan segera sirna, akan mudah terkikis waktu. Jika pun demikian menggebu di dunia, tak menyisakan apa-apa ketika kematian menjemput yang dicintai menuju kehidupan abadi. Dan hilang sempurna ketika yang mencintai pun akhirnya menyusul.
Contoh cinta-cinta destruktif bertebar di mana-mana. Jumlah kehamilan di luar nikah yang tinggi diikuti tingkat aborsi yang tinggi adalah contoh akibat cinta yang bersifat destruktif. Tingkat patah hati dan frustasi yang tinggi juga tanda cinta itu tak terikat kuat pada Yang Maha Mencintai, bahkan beberapa yang diikuti tindakan lanjutan berupa bunuh diri menjadikan cinta itu sangat destruktif. Dalam sejarah, perang-perang besar pun ada yang terpicu karena pemujaan terhadap cinta an sich. Dan contoh kontemporer saat ini adalah tingkat korupsi yang begitu tinggi di Negara kita tercinta. Ini juga akibat cinta berlebihan kita terhadap kehidupan dunia berikut kesenangan dan kemewahannya, uang sebagai representasinya. Hutan-hutan alam hancur, kerusakan lingkungan, bencana alam semisal banjir bandang, hutang luar negeri yang tak juga teratasi, infrastruktur yang tak juga memadai, pertumbuhan ekonomi yang rendah, persenjataan TNI yang out of to date, prestasi olahraga yang jauh tertinggal, kesenjangan yang ditandai jumlah penduduk miskin yang berbanding terbalik dengan jumlah penjualan barang mewah semisal mobil dan apartement, adalah efek domino dari korupsi sebagai akibat kecintaan yang tidak bernilai ukhrawi, cinta yang destruktif. Sejak di dunia sudah merusak, apalagi di akhirat. Tapi ya semua peringatan tak ada artinya karena sawaaun alaihim aandzartahum al lam tundzirhum laa yu’minun, khatama ala qulubihim wa ala samihim wa alaa abshaarihim ghisawatun walahum adzabun aliim. Telah tertutup telinga, mata dan hati kecuali oleh adzab yang pedih (di alam kubur dan akhirat).