sahabatsemua

Thursday, June 22, 2006

hari terakhirku?

Mungkin esok aku tak dapat melihat matahari pagi lagi
Mungkin aku tak lagi bernafas esok hari
Mungkin aku telah terbujur kaku tengah malam ini

Ya Rabbi…
Lunakkan sakaratul mautku
Karuniakan taubat sebelum sakaratul maut itu
Rahmati saat sakaratul maut itu
Ampuni setelah sakaratul maut itu

Kepada everybody yang kenal, aku mohon maaf atas sgala khilafku.
Tak ada terbersit di hatiku ingin menyakiti anda semua
Baik dengan kata ataupun tindakanku
Jadi seandainya ada hati yang terluka,
hmm sungguh accident yang tak kusengaja…
maafkan aku…

“Sok mendahului takdir loe” mungkin itu yang anda katakan padaku.
Ya, ini hanya perasaanku saja, perasaan yang sudah berulang kali ada dan memang tak terbukti, aku masih hidup sampai kini. Tapi setiap rasa itu dekat, aku merasa sungguh telah demikian dekat sehingga harus kukatakan maaf pada anda semua.

Bukan aku merasa telah siap dengan bekal kehidupan di sana. Sama sekali bekalku tak memadai. Harus jujur kukatakan kesalahanku amat banyak dan dosaku melimpah. Sementara kebajikanku demikian tipis… tapi saat itu akan tiba juga, modalku hanya permintaan maaf dari anda, permohonan ampun dari-Nya, serta harapan atas rahmat dan karunia-Nya…

Karuniakan cinta yang penuh kepada-Mu Rabbi…
Di ujung nafasku…







Tuesday, June 20, 2006

mimpi niy

Hati dan hati dipersatukan
kebahagiaan yang satu menjadi kegembiraan bagi yang lain.
kepedihan yang satu menjadi keprihatinan juga bagi yang lain.
cita-cita yang satu menjadi harapan pula bagi yang lain.
kelemahan yang satu dapat diterima oleh yang lain.
aib yang satu menjadi seperti aib sendiri yang harus ditutupi bagi yang lain.
kesalahan satu dengan mudah dimaafkan oleh yang lain.

tidak lagi riuh pembicaraan sinis satu dengan yang lain.
tak lagi senyum-senyum hanya hiasan sementara di belakang penuh kebencian.
tak terjadi lagi saling manipulatif dan memanfaatkan
kecerdasan tak lagi sebagai alat kelicikan yang saling menghancurkan

senantiasa terbuka

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah dan harta kalian, tapi melihat kepada hati dan amal kalian. Maka sungguh dengan hati dan amal itulah engkau memiliki nilai di sisi-Nya. Hati yang khusuk, senantiasa merasa terawasi oleh Allah, bahkan senantiasa berkomunikasi dengan Allah, membuat jiwa muthmainnah. Teguh dalam setiap cobaan, lembut dan kasih sayang kepada sesama dalam setiap keadaan, serta dapat memaksimalkan kesempatan untuk melakukan kebajikan.
.
Seorang tukang ojek yang sedang mencari nafkah, menunggu penumpang dengan sigapnya menggeser motornya (yang ngetem di posisi yang sudah benar) guna memberi jalan lewat bagi pengguna motor lain ketika jalanan macet karena satu sebab. Pengguna jalan lain merasa plong tidak kesal menunggu, sangat berterimakasih kepada si tukang ojek. Bertemu tetangga sedang kusut karena suatu masalah, disapa dengan senyum ramah, ditegur dengan empati apa problemnya, sang tetangga langsung merasa “punya teman” dan merasa sedikit nyaman. Di jalan bertemu pengamen, limaratus rupiah sudah mengembangkan senyumnya. Di kantor gorengan limaribu perak sudah bisa dinikmati yang lain. Ehm gampang bener sih melakukan kebaikan. Demi Allah, senantiasa terbuka kesempatan untuk melakukan kebajikan, kesempatan yang akan dimanfaatkan oleh hati yang khusuk, yang ihsan kepada Allah. Melakukan dengan ketulusan, tanpa pertimbangan agar mendapat pujian atau takut celaan, tanpa harap ucapan terimakasih, tidak ada pretensi untuk mendapat kesan baik apalagi membangun reputasi baik. Murni karena kecintaan kepada Allah.
.
Ketika diperlakukan ketus tanpa sebab pun, kebajikan bisa dicreate dengan berlapang dada dan memaafkan. Siapa tahu orang itu sedang moody, banyak masalah, terlalu sibuk dsj.

Sunday, June 18, 2006

takut dan harap

Kesalahan, kesia-siaan, kedurhakaan, dosa, aib, di masa lalu tak boleh dilupakan, harus senantiasa disesali, tak boleh dipandang ringan, harus ada ketakutan dan kekhawatiran jangan-jangan kita tak selamat karenanya. Inilah dasar taubat. Istighfar, banyak beristighfar sepenuh hati, dengan derai airmata kehambaan yang murni, inilah tuntunan taubat. Berhati-hati agar tak terjatuh lagi, waspada agar tak terulang lagi, sungguh-sungguh dan bersemangat untuk menutupi dan mengimbangi keterlanjuran dengan kebajikan, inilah kegunaan (praktis) taubat. Takut kepada Allah menjadi bahan bakar dan mesin pendorong sehingga laju kebajikan kita menjadi cepat. Jangan keterlaluan menyesali, karena penyesalan yang keterlaluan akan membuat putus asa. Ciri penyesalan yang keterlaluan adalah munculnya rasa putus asa dari rahmat Allah, merasa “terlanjur” sehingga terus berkubang dalam kesalahan dan dosa. Sehingga perbaikan pun menjadi imposible karenanya.
.
Harapan, tak ada yang lebih baik dari sikap senantiasa berpsangka baik kepada Allah. “Aku seperti apa yang disangkakan hamba-Ku”. Bahkan dikatakan filsuf “hidup adalah harapan”, apa arti hidup tanpa harapan. Dan api hidup terbesar adalah harapan kepada Allah. Semakin besar harapan, semakin bersemangat. Anak yang memiliki harapan mendapat nilai baik akan bersemangat belajar. Seorang yang memiliki harapan untung dalam bisnis akan semangat berusaha. Dan hamba yang memiliki harapan ridha Allah, akan bersemangat melahap setiap kesempatan melakukan kebajikan. Harapan menjadi bahan bakar dan mesin penarik sehingga laju kebajikan kita semakin cepat. Tapi jangan berharap secara keterlaluan, karena akan membuat lengah. Ciri berharap yang keterlaluan adalah adanya “rasa aman” dari murka Allah. Menggampangkan ibadah dengan mengatakan “Allah ‘tahu’ masalah kita”. Selanjutnya menunda-nunda kebajikan dan tak beranjak dari memperturutkan hawa nafsu.
.
Kita memiliki dua mesin, satu pendorong di belakang dan satu penarik di muka. Semakin besar kapasitas mesin semakin cepat laju kebajikan kita, semakin besar kemampuan kita menanggulangi masalah, tantangan, cobaan dalam segala bentuknya.

Thursday, June 15, 2006

cinta mati, rindu mati

Alhamdulillah...
segala puji bagi-Mu Rabbi
Yang telah menciptakan kerinduan
Yang menurunkan kerinduan itu dalam hatiku
Yang dengan kerinduan itu aku tak lagi menakuti kematian
Yang dengan kerinduan itu aku justru menantikan
Karena kematian adalah pintu pertemuanku dengannya yang amat kucinta
Pertemuanku dengan Rasul-Mu yang mulia
Pertemuanku dengan-Mu Yang Maha Segalanya…
.
Kesulitan apa yang tidak Engkau sediakan jalan keluarnya?
Adakah lagi yang bisa menakuti dengan kerinduan ini?
Selain ketakutan hilangnya kerinduan ini…
Ah alangkah lapangnya hidup tanpa ketakutan
Aku rindu Engkau…
Aku rindu orang-orang terkasihku…
Subhanallah…
Betapa manisnya menyebut asma-Mu
Alhamdulillah…
Betapa hanya pujilah yang pantas untuk-Mu
Allahu Akbar…
Betapa kuat ekstase dengan mengingat-Mu

Tuesday, June 13, 2006

nikmat mana lagi???

"Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan keimananmu, hingga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu". (Ibnu Athaillah)
tak ada hajat (kebutuhan) yang Dia ridha selain pasti Dia kabulkan...
dari sisi ini, kehidupan begitu indah
dari sisi ini, kehidupan melulu kedamaian
dari sisi ini, kebahagiaan senantiasa bersemayam
semoga jiwa yang muthmainnah (yang meyakini pertemuan dengan-Nya dan ridha dengan segala iradah-Nya) dikaruniakan kepadamu, kepadaku dan kepada kita semua...
wahai jiwa-jiwa yang muthmainnah, kemarilah ke dalam kelompok hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku...
Ya Rabbi tetapkan dzikir dalam hati kami, tetapkan syukur dalam sikap kami serta tetapkan ketekunan dan bagusnya ibadah dalam kehidupan kami... dan sungguh tak ada nikmat yang dapat kami dustakan...

Tuesday, June 06, 2006

tengah tahun niy

Sudah masuk pertengahan tahun, belum juga kamu mengambil “kesulitan” yang diperlukan. Masih juga kamu “menghindarinya” dan lebih banyak memilih kemudahan-kemudahan. Makna qurban lebih banyak sebagai wacana daripada sebagai jalan hidupmu saat ini. Aku sedih dan sunggh-sungguh miris. Airmatamu timbul tenggelam, padahal keringnya airmata adalah tanda keringnya jiwa. Tak ada yang sungguh-sungguh sulit kamu lakukan, justru di tahun yang kamu canangakan sebagai tahun tersulit. Pls istiqomah… begitu suara hatimu berkata, tapi sahabat tersetiamu itu pun kamu tindas!

Sementara pelajaran terus tergelar tanpa menjadi i’tibar, tanpa hikmah. Kamu mengatakan hikmahnya adalah bla bla bla… Hai bukan hikmah jika hanya terfahami. Sesuatu itu menjadi hikmah jika menimbulkan perubahan, jika menjadikan dirimu semakin intens berkomunikasi dengan-Nya. Membuatmu keyakinanmu semakin kokoh, membuatmu semakin khusuk (ihsan) menekuni setiap aspek kehidupan sebagai ibadah.

Lalu apa yang terjadi denganmu? Kamu sibuk ga jelas. Hidupmu seperti tak berkonsep, hari ke hari sama saja! Tidur nyenyak, makan enak, aktivitas yang nyaman, istirahat di depan TV sambil ngemil, shalat sekedarnya. Betapa lalainya hidupmu. Niscaya kamu akan termasuk orang yang menyesal telah menjadi manusia! Menyesal mengapa tidak jadi tanah saja! Mengapa menggunakan waktu hidupmu yang demikian berharga untuk sesuatu yang tak ada nilainya di sisi Allah.

Sempurnakan misi hidupmu sebagai manusia untuk ibadah kepada-Nya. Rasulullah mensyukuri nikmat dari Allah dengan sujud dan berdiri di waktu malam dengan sangat lama, sementara kamu tidur semalaman. Rasulullah memilih hidup sangat besahaja, sementara kamu melulu disibukkan menambah harta. Rasulullah istighfar setiap hari tak kurang 100 kali dengan sepenuh hati, sementara kamu yang terlalu banyak dosa beristighfar dengan lalai dan sekenanya.

Jangan katakan “itu Rasulullah, dan kita adalah manusia biasa”. Meski bener banget kalimat itu, gak bakalan ada manusia semulia Rasulullah, tapi Rasulullah adalah uswah, contoh, teladan yang mesti ditiru. Ahlak Rasul bisa ditiru meski dengan kadar kesempurnaan yang sangat jauh. Kadar itu harus terus disempurnakan tanpa henti. Begitu sempurna teladan itu, kita bisa terus meniru tanpa usai. Dan meneladani itu pun menjadi ibadah