sahabatsemua

Friday, September 22, 2006

luangkan waktu untuk-Ku

“Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku angkat kesibukanmu dan Aku bendung kefakiranmu. Jika engkau tak mau, niscaya Aku aku biarkan kesibukan mempermainkanmu dan takkan Kubendung kefakiran atasmu” (terjemah bebas hadist Qudsi)
.
Sesungguhnya ibadah yang terlewat-lewat adalah kefakiran itu sendiri. Sesungguhnya lalainya ibadah itu adalah kerugian hidup itu sendiri. Sesungguhnya ibadah yang tersia-sia adalah bencana itu sendiri.
.
Mungkin awal-awal hanya keutamaan yang terlewat.
Sebagai contoh shalat sebagai ibadah pertama yang dihisab, sebagai parameter ibadah lainnya. Keutamaan terlewat dengan shalat tidak lagi di awal waktu, tidak lagi berjamaah dst. Waktu magrib sungguh sedang terjebak kemacetan, waktu subuh sungguh penat dan kantuk belum teratasi, waktu duhur lagi meeting penting, waktu ashar lagi banyak client, dan waktu isya itulah puncak kelelahan. Jangankan menikmati shalat (sebagai media kita bertemu sang Khalik) dan berlama-lama di atas sajadah, jangankan meneruskan dengan doa dan dzikir, jangankan membaca quran, bisa shalat fardhu thok saja sudah setengah mati, jangan tanya lagi shalat sunnah, itu sudah semakin jarang. Jika sudah demikian, itu tanda-tanda keutamaan ibadah akan tercabut dari hidup. Keberkahan hidup bakalan redup.
.
Bisa jadi materi tak kurang, tapi hati kering. Bisa jadi kesejahteraan justru meningkat, tapi keresahan batin juga menyeruak. Bisa jadi hidup tak lepas dari tawa, tapi tangis dalam hati justru tak lagi menemukan obatnya. Bisa jadi sahabat dan kerabat menjadi banyak, tapi kegelisahan jiwa tidak selesai dengan mereka. Jika tak segera sadar dan memperbaiki diri, akan semakin sulit untuk kembali ke dalam track ibadah, akan semakin berat memulihkan kekhusukan ibadah. Yang tersisa tinggal keinginan untuk ibadah. “Nantilah satu saat aku akan ibadah lagi” mungkin itu yang terpikir di benak mereka yang berada dalam proses ini. Tapi kapan? Yakinkah maut takkan mendahului?

Thursday, September 21, 2006

my lovely ramadhan

Aku gagap menyongsong kedatanganmu
Bukan aku tak suka
Sungguh aku merindukanmu luar biasa
Aku hanya tak ingin engkau tersia-sia
Aku hanya takut tak bisa memuliakanmu
.
Engkau telah mengabari rencana kedatanganmu cukup lama
Tapi aku terlalu “sibuk” (alasan yang aku sendiri membencinya)
Sehingga tak pernah ada langkah antisipatif untuk menyambutmu
Selalu saja segala sesuatu dipersiapan last minute
Tak pernah sungguh-sungguh siap!
.
Engkau pasti datang esok atau lusa
Aku tahu aku tak dapat menyambutmu dengan sambutan yang memadai
Aku tahu aku tak bisa memuliakanmu semulia kedudukanmu
Begitulah bodoh dan naifnya aku
Yang tak dapat menerima kemuliaanmu dengan sepantasnya
.
Tapi
Semoga rasa cinta, kerinduan dan sukacitaku atas kedatanganmu mampu menghangatkan pertemuan kita nanti.
Hatiku berdebar menunggumu…

syahadatku yang terbata

Keharuan meluap dalam dadaku
Ketika dia mengucapkan dua kalimah syahadat dengan terbata
Seolah akulah “pengucapnya”
Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Tak ada yang disembah (diikuti dan dituruti) selain (kehendak dan syariat) Allah
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah
Dan hanya Rasulullah yang menjadi puncak uswah dalam hidup ini

Bukankah aku pun begitu sulit untuk hanya melakukan apa yang diridhoi dan dicintai-Nya?
Bukankah aku pun begitu sulit menempatkan Rasulullah sebagai patron hidupku

Aku gagap mencari nafkah halal
Aku tak fasih menyambut panggilan adzan-Nya
Aku begitu kelu untuk qiyamul lail
Aku tak lancar untuk dawam tadarus quran
Aku sangat-sangat terbata mengingat-Nya di setiap waktu

Air mataku menderas menyaksikan dia diminta mengulang-ulang syahadatnya karena keliru... dan dia mengucapkan kembali dengan keterbataan yang sama…

aku seolah menyaksikan diriku sendiri yang gagap "mengucapkannya" dalam perilaku hidupku...
Ya Rabbi syahadatku begitu buruk
Ya Rabbi syahadatku begitu terbata
Ya Rabbi hari ke hari sayahadatku tak juga fasih
Adakah Engkau menerima syahadatku?
Dapatkah aku diseru sebagai hamba-Mu?
Sudikah Engkau mengampuni segala kesalahan dan dosaku yang tak terhingga pada-Mu?
Ya Rabbi….
Berilah hamba petunjuk
Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan diri ini
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kesesatan tindakan
Aku berlindung kepada-Mu dari segala perilaku syirik
(kesyirikan berupa fikiran, perasaan, penglihatan, pendengaran, gerak dan amaliah yang tak terbingkai dengan syahadat…)
Ampuni syahadatku yang terbata
Terimalah syahadatku meski tak fasih Rabbi…
Lalu karuniakanlah syahadat yang fasih untukku…

bahasa emang gak beli

“Bahasa kan tidak beli, jadi apa sulitnya menyapa”, bener banget tuh. Banyak sekali kebajikan yang sebenarnya tanpa biaya tapi kita melewatkannya. Sebaliknya terlalu banyak kesia-siaan bahkan kemaksiatan yang justru sangat mahal tapi digandrungi dan kita lakukan. Secara tak sadar kita memang tak berfikir logis, tidak taktis dalam mengarungi hidup ini, tidak rasional sama sekali.
.
Jadi di mana masalahnya?, ya di tidak mau itu sendiri. Jika tidak mau, betapa beratnya mohon maaf atau memaafkan. Jika tidak mau, betapa sulitnya menyapa orang yang menyalahi kita. Jika tidak mau, betapa beratnya beli garam ke warung saat di suruh ibu kita dahulu. Jika sedang ogah, betapa “horeamnya” shalat. Jika tidak mau, jika tidak rela hal seringan apapun menjadi sulit dan berat.
.
Lalu apa penyebab tidak mau itu?
Kadang kemalasan, kadang keangkuhan, kadang ego, kadang gengsi, kadang kesombongan, kadang malu yang tidak pada tempatnya, kadang jiwa yang dikerdilkan amarah, kadang ketidakrasionalan sikap kita sendiri. Tanpa sadar kita memenangkan suatu yang mencelakakan diri kita sendiri dan mengalahkan suatu yang sebenarnya bisa memuliakan diri kita. Sambil merasa kita sedang membela hak kita, membela harga diri kita, membela kebenaran kita. Naudzubillah min dzalik.
.
Pertengkaran, pertikaian, perkelahian, pembunuhan bahkan perang sering dipicu oleh hal yang teramat sepele. Karena urusan seribu perak ada yang terbunuh. Karena urusan seorang penumpang ada yang baku hantam. Karena urusan charger bekas pertemanan hancur. Karena urusan omongan usil yang mungkin sekedar bercanda terjadi adu mulut. Karena kaki terinjak saling ngotot. Begitu sepele bagi kita yang tak terlibat secara emosional, kita anggap itu keterlaluan. Tapi percayalah itu bukan hal sepele bagi yang bersangkutan. Itu terlihat begitu besar, bukan lagi seribu perak, seorang penumpang atau hal lainnya lagi yang terlihat, tapi ego, harga diri dan rasa benar yang dimilikinya. Dari situlah syetan masuk membisikkan dan mengobarkan kemarahan. Dan setelah api kemarahan besar, akal mundur ke belakang, nurani tersingkirkan. Api kemarahan harus menemukan pemuasannya. Ribut-ribut deh urusan belakangan. Enak saja ni orang harus diberi pelajaran. Ayo deh gue hadapi maunya loe apa dst kata-kata pamungkas yang ada di kepalanya saat itu. Padahal kan, coba apa yang dibela? Apa untungnya?. Ributnya saja sudah bikin malu, kalau sampai ada korban urusannya panjang mengganggu kehidupan normal yang bersangkutan sendiri. Begitulah emosi yang terpicu dan tak segera kita kendalikan.

mana spiritnya?

Yang terpenting spirit yang terus terpelihara, yang terpenting adalah tak ada kata berhenti, terus melangkah. Secara logika itu akan “menghidupkan” keseharian dan mengantarkan pada tujuan. Secara prinsipil dan hakikat, tak mungkin ada janji-Nya yang meleset, pasti akan sampai kepada-Nya. Disiplin, terus melangkah seberapa pun sulitnya, seberapa besar pun hambatannya, seberapa sering pun terjatuh (atau bahkan sampai terjengkang), yang penting bangkit dan melangkah lagi. Istiqomah, dimanapun berada, apapun kondisinya. Di keramaian atau di kesendirian. Di keadaan lapang atau di kesempitan.
.
Awali dengan niat lurus, mulai dengan doa. Dengan niat lurus, semua menjadi ibadah. Sementara doa adalah inti ibadah itu sendiri, adalah juga merupakan senjata atau “alat” untuk menyelesaikan segala urusan. Lalu jaga itu di sepanjang perjalanan. Tawakal atas segala iradah-Nya kemudian.