yuk tanpa pretensi
Diabaikan, bukan suatu yang menyenangkan memang, apalagi jika kita berada dalam posisi “tak ingin diabaikan”, posisi ingin dihargai. Ingin dihargai adalah manusiawi, setiap orang ingin dihargai. Tapi tak berarti kita mesti tunduk pada keinginan itu. Maksud tunduk adalah kita menjadi terluka ketika usaha-usaha dan sikap terbaik yang coba kita lakukan tak mendapat penghargaan orang lain, kita justru diabaikan begitu saja.
.
Ingin dihargai adalah salah satu keinginan yang diujikan untuk mengetahui sejauh mana keikhlasan kita beramaliah. Benarkah kita beramaliah hanya sejauh ingin dihargai orang lain atau sungguh melakukan tulus karena kecintaan dan kewajiban. Benarkah amaliah kita hanya karena ingin mendapat apresiasi orang lain atau sungguh ikhlas melakukan karena Allah memerintahkan. Ketulusan justru teruji saat ada pengabaian dan penyepelean. Semakin “santai” dan tak terusik oleh perasaan tak enak apalagi sakit hati ketika menerima pengabaian, semakin tinggi dan sempurna ketulusan dan keikhlasan kita. Sebaliknya perasaan terganggu dan sakit hati menunjukkan ketidakikhlasan masih ada dalam jiwa kita.
.
Ingin dihargai adalah salah satu keinginan yang diujikan untuk mengetahui sejauh mana keikhlasan kita beramaliah. Benarkah kita beramaliah hanya sejauh ingin dihargai orang lain atau sungguh melakukan tulus karena kecintaan dan kewajiban. Benarkah amaliah kita hanya karena ingin mendapat apresiasi orang lain atau sungguh ikhlas melakukan karena Allah memerintahkan. Ketulusan justru teruji saat ada pengabaian dan penyepelean. Semakin “santai” dan tak terusik oleh perasaan tak enak apalagi sakit hati ketika menerima pengabaian, semakin tinggi dan sempurna ketulusan dan keikhlasan kita. Sebaliknya perasaan terganggu dan sakit hati menunjukkan ketidakikhlasan masih ada dalam jiwa kita.
.
Bagi pengikhlas sejati dihargai atau tidak, diapresiasi atau tidak, diabaikan atau tidak, tidak lagi menjadi bagian kalkulasi dan pertimbangan dalam melakukan tindakan. Kalkulasinya hanya satu, Allah. Haruskah, benarkah, bermanfaatkah, itulah yang menjadi azas tindakannya.
.
.
Jadi?
Semakin pandai kamu mengabaikan “pengabaian” orang lain, semakin terlatih kamu untuk bertindak ikhlas, bertindak tanpa pretensi.
.
Semakin pandai kamu mengabaikan “pengabaian” orang lain, semakin terlatih kamu untuk bertindak ikhlas, bertindak tanpa pretensi.
.
Namun bukan berarti kita bebas dan harus menguji keikhlasan setiap orang dengan tak menghargai mereka lho!. Itu sih namanya tak tau adab!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home