luangkan waktu untuk-Ku
“Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku angkat kesibukanmu dan Aku bendung kefakiranmu. Jika engkau tak mau, niscaya Aku aku biarkan kesibukan mempermainkanmu dan takkan Kubendung kefakiran atasmu” (terjemah bebas hadist Qudsi)
.
.
Sesungguhnya ibadah yang terlewat-lewat adalah kefakiran itu sendiri. Sesungguhnya lalainya ibadah itu adalah kerugian hidup itu sendiri. Sesungguhnya ibadah yang tersia-sia adalah bencana itu sendiri.
.
Mungkin awal-awal hanya keutamaan yang terlewat.
Sebagai contoh shalat sebagai ibadah pertama yang dihisab, sebagai parameter ibadah lainnya. Keutamaan terlewat dengan shalat tidak lagi di awal waktu, tidak lagi berjamaah dst. Waktu magrib sungguh sedang terjebak kemacetan, waktu subuh sungguh penat dan kantuk belum teratasi, waktu duhur lagi meeting penting, waktu ashar lagi banyak client, dan waktu isya itulah puncak kelelahan. Jangankan menikmati shalat (sebagai media kita bertemu sang Khalik) dan berlama-lama di atas sajadah, jangankan meneruskan dengan doa dan dzikir, jangankan membaca quran, bisa shalat fardhu thok saja sudah setengah mati, jangan tanya lagi shalat sunnah, itu sudah semakin jarang. Jika sudah demikian, itu tanda-tanda keutamaan ibadah akan tercabut dari hidup. Keberkahan hidup bakalan redup.
.
Bisa jadi materi tak kurang, tapi hati kering. Bisa jadi kesejahteraan justru meningkat, tapi keresahan batin juga menyeruak. Bisa jadi hidup tak lepas dari tawa, tapi tangis dalam hati justru tak lagi menemukan obatnya. Bisa jadi sahabat dan kerabat menjadi banyak, tapi kegelisahan jiwa tidak selesai dengan mereka. Jika tak segera sadar dan memperbaiki diri, akan semakin sulit untuk kembali ke dalam track ibadah, akan semakin berat memulihkan kekhusukan ibadah. Yang tersisa tinggal keinginan untuk ibadah. “Nantilah satu saat aku akan ibadah lagi” mungkin itu yang terpikir di benak mereka yang berada dalam proses ini. Tapi kapan? Yakinkah maut takkan mendahului?
Bisa jadi materi tak kurang, tapi hati kering. Bisa jadi kesejahteraan justru meningkat, tapi keresahan batin juga menyeruak. Bisa jadi hidup tak lepas dari tawa, tapi tangis dalam hati justru tak lagi menemukan obatnya. Bisa jadi sahabat dan kerabat menjadi banyak, tapi kegelisahan jiwa tidak selesai dengan mereka. Jika tak segera sadar dan memperbaiki diri, akan semakin sulit untuk kembali ke dalam track ibadah, akan semakin berat memulihkan kekhusukan ibadah. Yang tersisa tinggal keinginan untuk ibadah. “Nantilah satu saat aku akan ibadah lagi” mungkin itu yang terpikir di benak mereka yang berada dalam proses ini. Tapi kapan? Yakinkah maut takkan mendahului?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home