sahabatsemua

Wednesday, August 09, 2006

kenapa ya?

"please aku sangat perlu loe, gue perlu bicara, gue dalam masalah yang sangat berat, cuma loe yang gue percaya buat denger, buat kasih gue saran dan support" kata suara dari seberang sana. "gimana ya?.." belum sempat aku menjawab sempurna dia memotong "please gue kalut banget nich..." suaranya terisak. "iya iya..." kataku terpaksa melihat situasinya gak memungkinkan jawaban lain.
terus terang aku malas meladeni keluhan sahabat satu ini karena:
  1. dia bisa mendengar banyak masukan dengan khusuk serta derai air mata, tapi ujung-ujungnya selalu balik lagi ke perilaku semula. perilaku yang mengantarkannya pada masalah yang dia keluhkan.
  2. nah yang kedua ini yang kutakut, napa ya setiap kali aku berbagi pendapat atau nasihat dengan sahabat yang dalam masalah (dimana aku harus memberikan pandangan, saran-saran dan nasihat-nasihat tentang harus bagaimana menghadapi masalah itu)... tak lama setelah itu aku dalam masalah yang sama peliknya dengan sahabatku itu, bahkan kadang jauh lebih berat. disana aku "dipaksa" untuk dapat melaksanakan apa-apa yang telah aku katakan.

makanya jika tak terpaksa banget aku tak lagi menerima "konsultasi" dari siapapun. aku lebih suka menyarankan sahabat itu mencari orang yang lebih cocok. bahkan dalam obrolan dan tukar fikiran biasa pun aku sangat menjaga untuk tak memberikan saran dan nasihat dan juga komplain terhadap apa dan siapapun (meski dalam hati). Karena komplain pun berefek hampir sama. napa juga ya tiap "nyela" satu keadaan gak lama setelah itu, aku yang dalam keadaan itu, dan setengah mati keluar darinya.

.
Apa i'tibarnya?
  1. pertama jelas jangan mengatakan apa-apa yang tidak dikerjakan karena besar kemurkaan Allah terhadap orang yang mengatakan sesuatu yang tidak dia laksanakan. jadi kudu bisa melakukan apa-apa yang dikatakan, jika sudah mengatakan harus bisa dibuktikan.
  2. "jangan merasa lebih baik dari siapapun" "jangan memandang remeh apalagi rendah siapapun". meski bisa jadi kemunkaran yang hebat dilakukan seseorang, tapi rendahkan keburukan dan kemunkaran itu sendiri, bukan orangnya. terhadap orangnya tetaplah berbelas kasih, rasakan kemalangannya adalah kemalanganmu sendiri. sehingga usaha-usaha penyadaran yang dilakukan berbasis rahmah dan bil hikmah. tapi bukan berarti mesti menyerah dengan dalih kasihan jika memang hukum harus ditegakkan terhadapnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home