sahabatsemua

Tuesday, June 06, 2006

tengah tahun niy

Sudah masuk pertengahan tahun, belum juga kamu mengambil “kesulitan” yang diperlukan. Masih juga kamu “menghindarinya” dan lebih banyak memilih kemudahan-kemudahan. Makna qurban lebih banyak sebagai wacana daripada sebagai jalan hidupmu saat ini. Aku sedih dan sunggh-sungguh miris. Airmatamu timbul tenggelam, padahal keringnya airmata adalah tanda keringnya jiwa. Tak ada yang sungguh-sungguh sulit kamu lakukan, justru di tahun yang kamu canangakan sebagai tahun tersulit. Pls istiqomah… begitu suara hatimu berkata, tapi sahabat tersetiamu itu pun kamu tindas!

Sementara pelajaran terus tergelar tanpa menjadi i’tibar, tanpa hikmah. Kamu mengatakan hikmahnya adalah bla bla bla… Hai bukan hikmah jika hanya terfahami. Sesuatu itu menjadi hikmah jika menimbulkan perubahan, jika menjadikan dirimu semakin intens berkomunikasi dengan-Nya. Membuatmu keyakinanmu semakin kokoh, membuatmu semakin khusuk (ihsan) menekuni setiap aspek kehidupan sebagai ibadah.

Lalu apa yang terjadi denganmu? Kamu sibuk ga jelas. Hidupmu seperti tak berkonsep, hari ke hari sama saja! Tidur nyenyak, makan enak, aktivitas yang nyaman, istirahat di depan TV sambil ngemil, shalat sekedarnya. Betapa lalainya hidupmu. Niscaya kamu akan termasuk orang yang menyesal telah menjadi manusia! Menyesal mengapa tidak jadi tanah saja! Mengapa menggunakan waktu hidupmu yang demikian berharga untuk sesuatu yang tak ada nilainya di sisi Allah.

Sempurnakan misi hidupmu sebagai manusia untuk ibadah kepada-Nya. Rasulullah mensyukuri nikmat dari Allah dengan sujud dan berdiri di waktu malam dengan sangat lama, sementara kamu tidur semalaman. Rasulullah memilih hidup sangat besahaja, sementara kamu melulu disibukkan menambah harta. Rasulullah istighfar setiap hari tak kurang 100 kali dengan sepenuh hati, sementara kamu yang terlalu banyak dosa beristighfar dengan lalai dan sekenanya.

Jangan katakan “itu Rasulullah, dan kita adalah manusia biasa”. Meski bener banget kalimat itu, gak bakalan ada manusia semulia Rasulullah, tapi Rasulullah adalah uswah, contoh, teladan yang mesti ditiru. Ahlak Rasul bisa ditiru meski dengan kadar kesempurnaan yang sangat jauh. Kadar itu harus terus disempurnakan tanpa henti. Begitu sempurna teladan itu, kita bisa terus meniru tanpa usai. Dan meneladani itu pun menjadi ibadah


0 Comments:

Post a Comment

<< Home