ga penting banget
buat seorang sahabat yang "nyela" kalimatku yang belum selesai dengan kata "aku sih begini, terserah di situ, kita kan memang berbeda". ups padahal aku setuju banget dengan pendapatnya untuk MESTI TAAT PADA ORANGTUA. aku cuma mau kasih catatan hanya "sepanjang perintah itu tidak untuk melanggar kebenaran-Nya" dan itu gak mungkin banget dilakukan orangtua kita. tapi ya sahabat satu niy puas banget kalau bisa nge-kick aku. ok puaskanlah hatimu.
.
cut-off secara harfiah memang berarti "putus", tapi yang kumaksud adalah berkomunikasi seperlunya, hal-hal penting saja. itu kulontarkan karena keluhannya "mesti tabrakan dengan prinsipnya untuk tidak memutus silaturahmi". sementara aku mau semua normal saja terus keep and touch, saling curhat jika mau, saling support watawa shaubil haq. aku senang jika ada seseorang yang bisa menggemakan kembali untukku apa yang aku katakan. tapi itu dia nilai sangat berlebihan dan mesti dihentikan. baiklah jika memang dirasa baik, komunikasi bisa saja di cut off. selama hati tak membenci, sepanjang hati menyayangi, silaturahmi bisa terus terjalin meski hanya dengan doa. ga penting banget buatku ada atau tidak komunikasi itu. yang penting buatku dia happy dan aku tidak melakukan hal keliru. percaya deh silaturahmi ga putus karenanya.
.
trus berondongan pertanyaan bernada "ga salah lagi aku jatuh hati padanya" membuat aku geli. ini apa sih pede banget atau bagaimana?. tapi tak apalah dia meyakini anggapannya. ketika kita punya lima jari, apa sih pengaruhnya jika orang mengatakan jari kita hanya dua, tiga atau bahkan tujuh? jari kita tetap lima. anggapan dan sangkaan tak dapat merubah fakta, bagaimanapun dipaksakan.
.
sampai kapan pun aku tetap peduli dan mau tahu keadaannya, sampai kapan pun aku sayang padanya. sampai kapan pun aku mengharapkan yang terbaik untuknya. gak penting banget ada atau tidak ada komunikasi yang intens. terserah dia saja.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home