sahabatsemua

Tuesday, May 16, 2006

ayah

"hari ini tidak lupa berinfak kan? ambil setiap kesempatan untuk melakukan kebajikan, selagi kesempatan itu terbuka"
.
ini bukan kalimat ustadz di majlis taklim, tapi sms yang diterima sahabatku dari ayahnya!. oww seketika aku jatuh cinta pada sang ayah. "pls kapan gue bisa ketemu bokap loe?" kataku. "anytime jika loe mau" jawab sahabatku, "dia itu segalanya buat gue, meski s-nya bukan S besar Segalanya. ayah gue bukan saja ayah tapi juga guru sekaligus sahabat buat gue. dia selalu bisa mengisi apa yang kurang dari gue. dia kadang membiarkan gue berlelah-lelah dalam kesulitan tapi dia tahu persis kapan dia mesti mengulurkan tangannya. dia ingin gue bisa mandiri, dia ingin sedapat mungkin gue bisa mengambil pelajaran sendiri dari kesulitan gue, tapi dia selalu waspada untuk tak membiarkan gue terlalu sulit sendiri. dia bisa membakar motivasi hidup gue dan dia tahu bagaimana membuat gue bisa selalu mempertahankan motivasi gue tanpa harus ada dia. dia tahu kapan harus bicara, diam, marah, bercanda dan be a friend dengan gue." aku makin ngebet dengar cerita sahabatku tentang ayahnya. aku bayangkan untuk bisa bersahabat dengan ayah ini, menghirup spirit kebajikannya dan mengecap inspirasi dari keteladanannya.
.
akhirnya aku dapat bertemu beliau. "waktu ayah masih kecil, di bawah sepuluh tahun, ayah sudah dibiasakan oleh kakek A (sahabatku) untuk suka ibadat. gak ada paksaan, hanya melibatkan. ikut shalat berjamaah, ikut ngaji, menghafal quran, menjenguk orang sakit, menghafal hadis yang pendek-pendek dst. anak itu ternyata peniru yang baik, apa yang banyak dilihat dan didengar itu pulalah yang paling banyak ditiru. semua itu menjadi proses pembiasaan dan perlahan tapi pasti semua menjadi kebiasaan. dan itu melekat kuat. seperti hadis 'al haya'u minal iman - malu itu sebagian dari iman' ya sampai kini ayah akan malu buat bohong, buat mengambil hak orang atau buat melakukan hal yang dibenci Allah meski tak ada orang melihat dan bakal melihat, karena malu kepada Allah. ini malu dengan iman. betapa mahalnya malu ini di masa kini, dan semakin terasa betapa berharganya warisan kakeknya A itu" itu cerita pertama sang ayah ketika pertama kali bertemu denganku. hmm beruntung sekali sahabatku ini, punya ayah dan leluhur yang alim (berilmu dan mengamalkan ilmunya). air mataku menetes begitu saja, bahagia bisa kenal mereka, haru... dan ada cinta yang tak membuncah untuk mereka.
.
terimakasih Rabbi, segala puji bagi-Mu. aku rasa aku bisa lebih beruntung dari sahabatku dengan meng-ayah kepada ayah sahabatku disamping punya ayah sendiri dengan kelebihannya sendiri pula. segala puji bagi-Mu yang Maha Kasih, Yang menumbuhkan kasih sayang di hati kami...
.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home