sahabatsemua

Wednesday, May 10, 2006

seberapa pantas? (cerita niy)

seorang sahabat bercerita,
dia ditanya seorang ibu sahabatnya "mengapa kamu selalu menghubungi anakku? aku tak mau ada hubungan cinta antara kalian, kamu kurang bahkan tak pantas sama sekali buatnya."
dia menjawab "saya memang menyayanginya, banyak hal yang membuat dia pantas disayang. tapi sama sekali tak terfikir oleh saya untuk menjadikannya sebagai kekasih. tak perlu khawatirlah ibu, saya tahu diri"
sang ibu kembali bertanya "lalu mengapa selalu menghubungi? apa arti perhatian yang berlebihan, apa maksud sms yang mesra? jangan menghindar deh akui saja kamu suka dengan anakku, semua orang juga bisa lihat itu. pls deh jangan ganggu dia, biarkan dia mendapatkan kepantasannya tanpa rasa bersalah padamu"
sahabat menjawab "ibu, tak ada yang tahu perasaan saya selain saya sendiri. ibu dan siapapun bebas menafsirkan sikap saya. saya yakin kalau ibu membaca runtut semua sms saya tidak separo-separo pasti ibu bakal faham kata sayang, cinta dst, tidaklah dalam konteks sempit seperti yang diduga. sebagai bukti jika ibu meminta saya jangan menghubungi anak ibu dengan cara apapun dan alasan apapun ok saya akan lakukan tanpa sakit hati, saya tetap sayang pada anak ibu bahkan ibu sendiri. jika ibu mau nikahkan anak ibu sekarang juga dengan seseorang, insya Allah saya tak kalah bahagia dengan ibu karenanya."
"ok, lakukan itu, jangan hubungi anakku dengan cara dan alasan apapun" sambar sang ibu.
"baik ibu, niscaya satu saat ibu takkan ragu dengan kata-kata saya"
.
demikian cerita singkat sahabatku, aku menghela nafas "wah sikap dia mirip-mirip sikapku niy kalau menghadapi hal yang sama" ujarku dalam hati.
"bener loe gak berharap dia menjadi kekasih loe?" kataku menanggapi.
"gue tak yakin bisa membahagiakannya, gue tahu cita-cita dia, impian dia, harapan dia tentang hidup, gue setuju dan salut dengan cita-cita mulianya itu, tapi kejauhan dengan kemampuanku" jawabnya.
"kalo gitu berarti loe berharap dong. apa karena loe takut gagal lagi?" serangku
"ah loe sama saja dengan mereka-mereka yang menganggap gue ada hati padanya. ini masalah keyakinan men, kalau gue yakin gue akan mengusahakannya, perkara gagal apa pernah sih gue takut gagal? gue pernah melakukannya bukan?" katanya sewot.
"ok deh, gue percaya loe bisa mengatasi perasaan loe. gue kenal mereka juga kok, gue yakin mereka punya pertimbangan sendiri untuk kebaikan kalian. gue setuju dengan sikap loe. tapi ya bersiaplah "kehilangan" sahabat loe itu karena udah janji kan gak bakal kontak lagi" kataku menurunkan tensi pembicaraan.
"kehilangan pasti, dia punya banyak hal yang bisa gue jadikan pelajaran. gue bakal kangen dia, tapi gue lebih kangen melihat atau mendengar dia happy, bukannya bermasalah karena gue" jawabnya.
"cian deh loe, cuma berelasi saja jadi terdakwa" batinku
.
aku ingat setahun yang lalu sahabatku ini mengalami nasib yang mirip, bedanya dulu dia sudah melakukan usaha dan gagal total. kenal gadis cantik, "biasa aja sih gadis cantik kan banyak, meski ini mah rada keterlaluan cantiknya" katanya. tapi sahabatku mulai perhatian ma ni gadis setelah dalam suatu percakapan (rame-rame) ternyata si gadis paling antusias dengan topik agama dan selalu apresiatip dengan orang berpemahaman agama, sahabatku ini pan rada tukang "wasiat" juga. singkat cerita dia cari info status sang gadis ke temen-temennya si gadis. ok, alone gak ada cowok, "dia juga punya atensi lho sama loe" kata temennya. semangat 45 deh sahabatku ini, entahlah dia merasa cocok banget ma ni gadis. dia mengatur hati, berdoa, lalu mulailah melakukan usaha. beberapa kali lunch bareng (ga berdua sih), rasanya klop. tapi begitu topik menyentuh keluarga "bagaimana jika gue dateng ke rumah loe?" hmm jawabannya "ntar-ntar deh". woooi ternyata si gadis bener-bener bukan orang sembarangan, dia darah biru, orang tuanya terpandang secara nasional, harta jangan tanya, dan kemana-mana tu gadis pake sedan eropa. walah-walah sahabatku shock, biasanya dia jemput tu gadis pake taxi ke kantornya. si gadis juga oke-oke aja and low profile. "maaf bukannya gue gak suka ama loe, gak ada yang kurang dari loe, tapi gue gak yakin kita bisa saling menyesuaikan diri, gue tahu keluarga gue pasti kurang berkenan ama loe". tapi kadung melangkah, sahabatku bener-bener datengi rumah tu gadis. beruntung ibu sang gadis masih mau menemuinya, tapi tak cukup beruntung untuk mendapat sambutan hangat selain kata "bisa tak berharap pada anak saya?, berteman ok, tapi untuk lebih maafkan...bla-bla-bla" gagal totaaal!
"napa si loe sahabat, kisahmu kok gak juga ber-ending indah?" batinku lagi setelah peristiwa terakhir. tapi aku salut dengan daya lentur mentalnya. setelah itu dia kaya biasa aja, roman mukanya, senyumnya, keceriaannya, semangatnya menjalani hari-hari tak berubah sama sekali. "wasiat-wasiat yang gue kasih ke orang kan sesungguhnya buat gue pake sendiri tau!, ini bukan hanya baik buat gue, tapi terbaik! emang loe mau dikasih yang terbaik malah marah sama Yang Kasih?" katanya. "dasar tukang wasiat loe!" timpalku dalam hati.
.
aku teringat hal kontras dengan yang kualami baru-baru ini
belum lama aku ditanya seorang ibu sahabatku yang lain "anda sudah punya calon?"
"belum ibu" jawabku
"ibu heran juga lho sama anak gadis ibu, kok dia belum juga punya pacar, anak perawan kok malam minggu dan hari minggu di rumaaah aja" katanya. hehe aku pernah dicurhatin ma anaknya kalau nyokap gelisah lihat dia sampe sekarang ga malam mingguan.
"ya mungkin itu prinsipnya ibu, dalam agama kita memang tak kenal terminologi pacaran" jawabku
"ya, ibu pernah tanya eh dia jawab 'aku akan menikah dengan pria pertama yang melamar aku, yang memintaku dengan cara terhormat dan bertanggungjawab. cukup dia beragama baik, sudah bekerja (apa saja) dan singgle' " jelas ibunya.
"hmm kesempatan niy" kataku dalam hati. aku teringat sahabatku ini punya "wajah", prestasi akademiknya bagus, aktivis di kampus dulu, baru lulus langsung diterima kerja, pemahaman agamanya ok, dan cukup care padaku. "mungkin cocok niy buatku, apa sang ibu sedang mengundangku untuk melamarnya niy?" terbersit tanya dalam hatiku.
"ya tunggu saja ibu, saya yakin banyak yang suka pada dia, cantik, pintar, baik, pergaulannya pun cukup luas, jangan khawatir hanya masalah waktu." itulah yang keluar dari bibirku karena aku berfikir dia punya hak untuk mendapatkan yang lebih dariku, aku merasa tak cukup pantas, tak sekufu dengannya. tapi sepulang dari sana, semalam aku menimbang-nimbang lalu shalat istikharah. jika baik condongkan hati, yakinkan hati dan mudahkan...doaku. tiga hari kulalui tetap tanpa perasaan yakin. banyak urusan dan tanggungjawab pribadiku yang menuntut konsentrasiku, tak adil mengajaknya "susah" sementara dia punya chance mendapatkan yang lebih baik. aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan saat itu.
.
sebuah alasan yang sama dengan cerita sahabatku di atas bahwa kami merasa tak cukup pantas. dia merasa tak cukup pantas untuk mengusahakan, sementara aku merasa tak cukup pantas mengambil kesempatan. sama-sama merasa tak pantas.
.
istikharah itu sekitar 6 bulan lalu. dan beberapa hari lalu aku dapat undangan pernikahan gadis sahabatku yang care itu. dan uniknya dia akan menikah tepat di hari ulangtahunku. hmm sengajakah sahabat? wallahu a'lam.
.
.

2 Comments:

At 1:33 AM, Blogger anio said...

This comment has been removed by a blog administrator.

 
At 11:34 PM, Blogger sahabatsemua said...

cinta adalah derita yang istimewa, tapi membahagiakan...
puncak cinta adalah rela,
dengan relalah kita bahagia...

 

Post a Comment

<< Home