grasani bin ghibah
dalam satu komunitas
komunitas yang satu
terasa miris hatiku ketika berkembang di dalamnya saling ngrasani
hmm tidak akan kukatakan mereka saling iri atau dengki
meneketehe isi hati mereka!
faktanya adalah saling ngrasani
tak juga aku mau men'judge orang lain
ini lebih untuk introspeksi
.
balik ke crita awal
si a, b, c bertemu ceritakan kejelekan si d
nyaris selalu begitu, hal-hal yang tak disukai tentang si d diungkap dengan sinis
aku tak mau dengar, tapi kita ada di satu ruang
aku hanya bisa ingatkan "gak baik bicarakan itu, d itu teman kita yang juga tak luput dari kekurangan seperti kita". "iya tapi ......." ups malah manjang mereka ceritakan hal negatif lain yang tak kutahu. "pls aku tak mau dengar, aku terima dia seperti juga aku terima kalian apa adanya". Jadilah mereka hanya berbisik-bisik setiap ngrasani si d. tapi mereka bicara di ruang yang sama denganku, aku masih bisa tangkap...
.
giliran si a ga ada, yang ada b, c dan d. wah mereka juga hot nyela si a. ya ampuun, aku tak mau dengar. kita kan telah kenal lama, saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, kenapa tidak saling tutup aib tapi malah sebaliknya. kenapa tidak gembira dengan suatu keberhasilan dan peruntungan teman lain, tapi kok setiap ada ada yang mendapat kesenangan dan peruntungan, ada saja komentar sinisnya. dan itu dilakukan di belakang, sementara di depan, ya nice-nice saja.
.
aku hanya miris berada di komunitas itu. aku miris karena usaha-usaha yang kulakukan untuk mengalihkan pembicaraan atau memotong pembicaraan bahkan menyatakan ketidaksetujuan tak membuahkan hasil. aku miris karena bukan mustahil aku pun jadi bahan gunjingan di belakang, apalagi dalam hal ini sikapku kan berseberangan dengan mereka.
.
aku ingat kata bijak, "kita tak dapat merubah orang lain, satu-satunya yang bisa kita rubah adalah sikap kita terhadap orang lain. daripada berfikir negatif tentang orang lain lebih baik fikirkan apa pelajaran yang sedang mereka berikan untuk kita". apa pelajarannya?
- jelas typikal penggunjing teliti sekali dengan kesalahan kita, betapa koreksi itu berguna untuk memperbaiki diri dengan teliti pula.
- kadang ucapan mereka memerahkan telinga satu sama lain, ya kalau kebetulan terkena kita, berarti mereka memberi kesempatan buat kita meraih kemuliaan sabar dn memaafkan.
- tanpa tantangan, apa sih yang terbukti?. tanpa ujian, siapa sih yang bisa lulus? so inilah tempat pembuktian dan ujian siapa diri kita sesungguhnya. terbawa aruskah, terpancing marahkah, atau membiarkan waktu membuktikan ucapan-ucapan mereka.
.
finally, aku tetep sayangi mereka. aku jadi seperti "diusir" dari ruangan jika mereka ngrasani satu sama lain. kebiasaan nggunjing ini tidak stop-stop banget dengan sikapku itu, tapi paling tidak ada rem lah jika aku ada ditengah-tengah mereka. mereka kan sungkan jika aku ngeloyor terusir dari ruangan terus menerus.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home