nimbrung RUU APP
jawaban terhadap suara penolakan RUU APP
.
Memasung kreativitas seni
Adakah sesuatu yang tanpa batas? Batasan itulah yang membedakan manusia dan hewan.
.
Adakah sesuatu yang tanpa batas? Batasan itulah yang membedakan manusia dan hewan.
.
Batasan tidak jelas
Batasnya adalah grafi dan aksi yang memancing, apalagi sengaja memancing. Terlebih dengan publikasi yang tidak tersegmentasi.
Batasnya adalah grafi dan aksi yang memancing, apalagi sengaja memancing. Terlebih dengan publikasi yang tidak tersegmentasi.
.
Bagaimana dengan budaya lokal misal jaipong atau masyarakat Papua yang masih telanjang?
Budaya jaipong seperti tari-tari daerah lain tidaklah menjadi target UU ini, meski tentu erotisme dari tari itu sedikit banyak memang memancing, tapi tari-tarian daerah itu tidaklah ditujukan untuk memancing seperti misalnya striptease. Sedangkan untuk masalah ketelanjangan di Papua, itu akibat keterbelakangan, sehingga pendekatan peradaban yang harus dilakukan. Nyata bukan bahwa buka-bukaan adalah produk kerterbelakangan peradaban.
.
Bagaimana dengan budaya lokal misal jaipong atau masyarakat Papua yang masih telanjang?
Budaya jaipong seperti tari-tari daerah lain tidaklah menjadi target UU ini, meski tentu erotisme dari tari itu sedikit banyak memang memancing, tapi tari-tarian daerah itu tidaklah ditujukan untuk memancing seperti misalnya striptease. Sedangkan untuk masalah ketelanjangan di Papua, itu akibat keterbelakangan, sehingga pendekatan peradaban yang harus dilakukan. Nyata bukan bahwa buka-bukaan adalah produk kerterbelakangan peradaban.
.
Politis dari Bali, Sulut dan Papua
Siapapun yang diuntungkan (terutama secara ekonomi) dari grafi dan aksi ini akan melakukan perlawanan. Bali yang turisnya terbiasa bebas untuk nude jelas merasa terancam dengan RUU APP. Begitu yakinkah kita bahwa pariwisata tidak bisa maju tanpa nudes? Tanpa permissive terhadap pornografi dan pornoaksi (PP)? Haruskah kita lokalisasi perjudian, pelacuran dan peradaban rendah lain demi kepentingan ekonomi.
Siapapun yang diuntungkan (terutama secara ekonomi) dari grafi dan aksi ini akan melakukan perlawanan. Bali yang turisnya terbiasa bebas untuk nude jelas merasa terancam dengan RUU APP. Begitu yakinkah kita bahwa pariwisata tidak bisa maju tanpa nudes? Tanpa permissive terhadap pornografi dan pornoaksi (PP)? Haruskah kita lokalisasi perjudian, pelacuran dan peradaban rendah lain demi kepentingan ekonomi.
.
Abstrak, menyamakan imaginasi
Imaginasi tentang sexualitas umumnya memang sama, pria terarik tubuh wanita dan wanita sebaliknya. Imaginasi itu yang dijaga dan dipelihara. Karena jika diekspresikan di tempat umum akan menjadi rusaklah tatanan peradaban. Imaginasi anak muda yang terutama perlu dilindungi, sehingga berada pada tempatnya sesuai waktunya agar tidak destruktif.
Abstrak, menyamakan imaginasi
Imaginasi tentang sexualitas umumnya memang sama, pria terarik tubuh wanita dan wanita sebaliknya. Imaginasi itu yang dijaga dan dipelihara. Karena jika diekspresikan di tempat umum akan menjadi rusaklah tatanan peradaban. Imaginasi anak muda yang terutama perlu dilindungi, sehingga berada pada tempatnya sesuai waktunya agar tidak destruktif.
.
Mau menghakimi imaginasi?
Hal empiris yang diatur, bukan hal abstrak. Obyek yang empiris yang diatur meski obyek itu akan dicerna dengan sangat beragam oleh asing-masing person.
Mau menghakimi imaginasi?
Hal empiris yang diatur, bukan hal abstrak. Obyek yang empiris yang diatur meski obyek itu akan dicerna dengan sangat beragam oleh asing-masing person.
.
Tidak akan menyentuh substansi
Tidak menjamin penyelesaian tuntas karena implementasi perlu perjuangan tersendiri. Tapi bagaimanapun harus ada upaya pemberantasan, pengendalian dsj mengingat masifnya PP saat ini.
Tidak akan menyentuh substansi
Tidak menjamin penyelesaian tuntas karena implementasi perlu perjuangan tersendiri. Tapi bagaimanapun harus ada upaya pemberantasan, pengendalian dsj mengingat masifnya PP saat ini.
.
Ditunggangi kepentingan (ekonomi) lain
Mungkin ada yang bisa mengambil manfaat dari UU APP, tapi tidaklah ini ditujukan selain untuk mencegah dampak negatif dari APP.
Ditunggangi kepentingan (ekonomi) lain
Mungkin ada yang bisa mengambil manfaat dari UU APP, tapi tidaklah ini ditujukan selain untuk mencegah dampak negatif dari APP.
Menimbulkan pro kontra yang tidak produktif
Ya, terutama dari yang kepentingannya terancam karena UU ini. Tapi mestikah kita mengorbankan kepentingan yang lebih besar? Mari berdemokrasi dengan fair, kita berdialog, kita tukar fikiran, kita bertukar argumentasi, kita berusaha saling meyakinkan, kita coba pecahkan dan atasi ekses-ekses yang timbul akibat UU ini. Tapi pasti tak akan pernah bulat suara 200 jutaan suara kita. Maka pihak yang dirugikan oleh RUU APP akan didengar oleh pihak yang memperjuangkan RUU APP sebaliknya pihak yang dirugikan RUU APP mesti mendengar juga pihak yang dirugikan dengan masifnya PP saat ini. Semua suara akan terakomodir dalam voting jika satu suara tak tercapai melalui dialog.
.
Sudah ada KUHP serta perangkat hukum lainnya
Untuk lebih mempertajam dan pelapisan peraturan. Untuk menjerat korupsi pun ada dalam KUHP, tapi UU khusus mempertajam upaya ini.
Sudah ada KUHP serta perangkat hukum lainnya
Untuk lebih mempertajam dan pelapisan peraturan. Untuk menjerat korupsi pun ada dalam KUHP, tapi UU khusus mempertajam upaya ini.
.
Sudah terlalu banyak UU dan badan yang harus menjalankan UU itu
Itulah komitmen bersama untuk menanggulangi permasalahan bersama yang disepakati berdampak sangat buruk karena telah bersifat sangat massif semisal korupsi.
Sudah terlalu banyak UU dan badan yang harus menjalankan UU itu
Itulah komitmen bersama untuk menanggulangi permasalahan bersama yang disepakati berdampak sangat buruk karena telah bersifat sangat massif semisal korupsi.
.
Menghamburkan keuangan negara yang konon sudah susah
Ada harga yang dibayar untuk mengatasi sesuatu. Tapi percayalah selalu lebih murah mencegah dari mengobati. Ibarat narkoba yang bernilai ekonomi tinggi, tapi tak terbayangkan kerusakan yang diakibatkannya.
Menghamburkan keuangan negara yang konon sudah susah
Ada harga yang dibayar untuk mengatasi sesuatu. Tapi percayalah selalu lebih murah mencegah dari mengobati. Ibarat narkoba yang bernilai ekonomi tinggi, tapi tak terbayangkan kerusakan yang diakibatkannya.
.
Perempuan tidak dilindungi bahkan jadi obyek dalam UU ini, menekan perempuan dan ngatur-ngatur cara berpakaian wanita
Justru untuk melindungi eksploitasi wanita. Sensualitas wanita “dijual” untuk iklan produk, untuk meningkatlan oplah majalah dst, bukankah itu yang eksploitasi?. Mengapa merasa ditekan dan di-obyek-an ketika justru ditempatkan secara terhormat dan dijaga kehormatannya.
Pakaian-pakaian normal dipastikan tidak disentuh UU ini. Tapi ukuran normal ini jelas beda di barat dan di timur. Apa yang baik tirulah biar dari barat, tapi kalau hanya gaya hidup dan cara berpakaian yang ditiru sementara disiplin dan technology tidak ditiru.
Peran wanita dihargai karena kemampuan, kecerdasan dst, bukan sekedar karena sensualitasnya seperti juga pria tidak dihargai karena sekedar maskulinitasnya.
Isu gender yang dihembuskan tidaklah proporsional, karena kedudukan wanita dan pria sama, hak pria dan wanita sama, terlebih di hadapan tuhannya. Perbedaan jelas ada karena gendernya memang berbeda, akan selalu ada hal itu, sehingga proporsi hak dan kewajiban pria wanita tak bisa sama. Pria wanita punya hak untuk bekerja, pria wanita punya kewajiban mengurus rumah tangga. Fungsi leader dalam hak dan kewajiban itu lebih agar jelas siapa yang mesti bertanggungjawab, bukan berarti saling mentidakbolehkan atau saling mengandalkan. Berperan saling melengkapi, saling mendukung, bukan saling mengeksploitasi. Wanita lebih bertanggungjawab terhadap roda keseharian di dalam rumah tangga, tanggungjawab itu berat. Tapi bukan berarti pria boleh tak mau tahu atas beban itu karena pada akhirnya pria harus bertanggungjawab atas keseluruhan jalannya rumah tangga.
Perempuan tidak dilindungi bahkan jadi obyek dalam UU ini, menekan perempuan dan ngatur-ngatur cara berpakaian wanita
Justru untuk melindungi eksploitasi wanita. Sensualitas wanita “dijual” untuk iklan produk, untuk meningkatlan oplah majalah dst, bukankah itu yang eksploitasi?. Mengapa merasa ditekan dan di-obyek-an ketika justru ditempatkan secara terhormat dan dijaga kehormatannya.
Pakaian-pakaian normal dipastikan tidak disentuh UU ini. Tapi ukuran normal ini jelas beda di barat dan di timur. Apa yang baik tirulah biar dari barat, tapi kalau hanya gaya hidup dan cara berpakaian yang ditiru sementara disiplin dan technology tidak ditiru.
Peran wanita dihargai karena kemampuan, kecerdasan dst, bukan sekedar karena sensualitasnya seperti juga pria tidak dihargai karena sekedar maskulinitasnya.
Isu gender yang dihembuskan tidaklah proporsional, karena kedudukan wanita dan pria sama, hak pria dan wanita sama, terlebih di hadapan tuhannya. Perbedaan jelas ada karena gendernya memang berbeda, akan selalu ada hal itu, sehingga proporsi hak dan kewajiban pria wanita tak bisa sama. Pria wanita punya hak untuk bekerja, pria wanita punya kewajiban mengurus rumah tangga. Fungsi leader dalam hak dan kewajiban itu lebih agar jelas siapa yang mesti bertanggungjawab, bukan berarti saling mentidakbolehkan atau saling mengandalkan. Berperan saling melengkapi, saling mendukung, bukan saling mengeksploitasi. Wanita lebih bertanggungjawab terhadap roda keseharian di dalam rumah tangga, tanggungjawab itu berat. Tapi bukan berarti pria boleh tak mau tahu atas beban itu karena pada akhirnya pria harus bertanggungjawab atas keseluruhan jalannya rumah tangga.
.
Meminggirkan peran wanita, merendahkan wanita, menghambat ekspresi wanita, menyalahkan wanita sebagai penyebab degradasi moral, mengapa wanita?
Kesan yang ditangkap dengan prasangka memang demikian, tapi psikologi pun mengakui bahwa pria lebih mudah terangsang sehingga lebih luas bagian wanita yang mesti ditutup. Mengapa merasa menjadi obyek? Sementara kalau dibuka kemudian dinikmati pria tidak merasa menjadi obyek?
Meminggirkan peran wanita, merendahkan wanita, menghambat ekspresi wanita, menyalahkan wanita sebagai penyebab degradasi moral, mengapa wanita?
Kesan yang ditangkap dengan prasangka memang demikian, tapi psikologi pun mengakui bahwa pria lebih mudah terangsang sehingga lebih luas bagian wanita yang mesti ditutup. Mengapa merasa menjadi obyek? Sementara kalau dibuka kemudian dinikmati pria tidak merasa menjadi obyek?
.
Menggunakan justifikasi moral dan agama untuk memaksakan kehendak
Hal yang baik perlu diusahakan. Seperti kita tahu hal yang baik dan buruk buat anak. Dengan senang hati kita akan memberi pengertian tentang baik buruk itu agar si anak melakukan yang baik atau menghindari yang buruk dengan suka hati. Tapi ketika si anak belum kunjung faham sementara bahaya sudah begitu mengancam, maka pemaksaan adalah suatu yang bijaksana agar si anak terhindar dari kecelakaan dan bahaya. Pemaksaan ini tidaklah dengan kebencian, tapi dengan kasih sayang.
Menggunakan justifikasi moral dan agama untuk memaksakan kehendak
Hal yang baik perlu diusahakan. Seperti kita tahu hal yang baik dan buruk buat anak. Dengan senang hati kita akan memberi pengertian tentang baik buruk itu agar si anak melakukan yang baik atau menghindari yang buruk dengan suka hati. Tapi ketika si anak belum kunjung faham sementara bahaya sudah begitu mengancam, maka pemaksaan adalah suatu yang bijaksana agar si anak terhindar dari kecelakaan dan bahaya. Pemaksaan ini tidaklah dengan kebencian, tapi dengan kasih sayang.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home