mudahnya uang mengecoh
Kegiatan apa yang tidak memerlukan materi, yang tidak melibatkan uang?
Usaha perlu modal, olahraga perlu sarana, pendidikan perlu biaya, kesehatan dan pengobatan perlu dana, bepergian perlu transportasi, tidur perlu rumah, lapar perlu makanan, haus perlu minuman, bahkan untuk beramal dan ibadah pun tak bisa lepas dari materi dan uang.
Demikian tak terbantahkan fungsi materi dan uang, sehingga begitu kuat pula daya tipunya, begitu halus daya sesatnya, begitu hebat daya kecohnya yang menggiring manusia pada konklusi UANG ADALAH SEGALANYA. Ada uang urusan lancar, ada uang masalah selesai, ada uang hidup bahagia, ada uang segalanya ada.
Maka dijadikan materi dan uang sebagai tolak ukur keberhasilan, sebagai tanda kesuksesan, sebagai dasar kebersatuan (kelompok kepentingan materi), bahkan sebagai parameter cinta. Dijadikan materi dan uang sebagai tujuan, bahkan menjadi pusat kehidupan. Melulu materi dan uang.
Begitu banyak yang bisa dilakukan dengan uang, begitu banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, dan memang begitu banyak “nilai” yang bisa diraih dengan materi dan uang. "nilai" adalah sesuatu yang bermanfaat secara hakiki dan bersifat abadi
Tapi bukan materi dan uanglah yang bernilai melainkan KETAKWAAN MANUSIALAH YANG BERNILAI. Dengan etos taqwa materi dan uang dapat dicari dan diusahakan untuk kemudian diabdikan dengan tepat. Sehingga materi dan uang tidak justru menjadi “tuan” bagi yang mencari dan yang memilikinya. Tidak kemudian mengecoh dan menyesatkan pencari/pengusaha dan pemiliknya.
Allah memerintahkan untuk “tidak menyimpan-nyimpan” uang, untuk tidak menumpuk-numpuk harta agar terdistribusi dengan baik kesejahteraan bagi manusia. Agar bergerak “roda perekonomian” melaui sektor-sektor riil, agar mengalir manfaat dari materi dan uang itu ke segenap penjuru. Pada saat mengalir manfaat dari satu orang ke orang lainnya di situlah mengalir karunia yang menjadi “nilai” bagi manusia. Yang menerima mendapatkan kebutuhannya dan yang memberi mendapatkan “nilai” 700 kali dari apa yang diberikan.
Terhadap segala karunia Allah, akan dimintai pertanggungjawaban DIPAKAI UNTUK APA?, namun khusus terhadap materi dan uang akan ditanya DIDAPAT DARIMANA DAN DIPAKAI APA?
Ketika kita berinfak, tidak “sampai” kepada Allah apa yang kita infakkan karena apa yang kita infakkan pun tak lain adalah milik Allah!. Yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaan yang bersemayam dalam hati. Yang dengan taqwa itu seseorang menafikan rasa ‘sayang’-nya pada harta, tak menghiraukan bisikan syetan untuk takut kekurangan dengan berinfak tersebut, menghancurkan kebakhilannya dan memenangkan rasa berhamba dan ketaatannya kepada Allah. Nilai ketaqwaan inilah yang bernilai di sisi Allah.
Innallaha laa yandhuru ila suwarikum wa amwalikum, walakin yandhuru ila qulubikum wa a’malikum
(Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada wajah-wajahmu dan harta-hartamu, melainkan memandang kepada hati dan amal-amal kalian)
Inna akramakum indallahi atqookum
(Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian).
Usaha perlu modal, olahraga perlu sarana, pendidikan perlu biaya, kesehatan dan pengobatan perlu dana, bepergian perlu transportasi, tidur perlu rumah, lapar perlu makanan, haus perlu minuman, bahkan untuk beramal dan ibadah pun tak bisa lepas dari materi dan uang.
Demikian tak terbantahkan fungsi materi dan uang, sehingga begitu kuat pula daya tipunya, begitu halus daya sesatnya, begitu hebat daya kecohnya yang menggiring manusia pada konklusi UANG ADALAH SEGALANYA. Ada uang urusan lancar, ada uang masalah selesai, ada uang hidup bahagia, ada uang segalanya ada.
Maka dijadikan materi dan uang sebagai tolak ukur keberhasilan, sebagai tanda kesuksesan, sebagai dasar kebersatuan (kelompok kepentingan materi), bahkan sebagai parameter cinta. Dijadikan materi dan uang sebagai tujuan, bahkan menjadi pusat kehidupan. Melulu materi dan uang.
Begitu banyak yang bisa dilakukan dengan uang, begitu banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, dan memang begitu banyak “nilai” yang bisa diraih dengan materi dan uang. "nilai" adalah sesuatu yang bermanfaat secara hakiki dan bersifat abadi
Tapi bukan materi dan uanglah yang bernilai melainkan KETAKWAAN MANUSIALAH YANG BERNILAI. Dengan etos taqwa materi dan uang dapat dicari dan diusahakan untuk kemudian diabdikan dengan tepat. Sehingga materi dan uang tidak justru menjadi “tuan” bagi yang mencari dan yang memilikinya. Tidak kemudian mengecoh dan menyesatkan pencari/pengusaha dan pemiliknya.
Allah memerintahkan untuk “tidak menyimpan-nyimpan” uang, untuk tidak menumpuk-numpuk harta agar terdistribusi dengan baik kesejahteraan bagi manusia. Agar bergerak “roda perekonomian” melaui sektor-sektor riil, agar mengalir manfaat dari materi dan uang itu ke segenap penjuru. Pada saat mengalir manfaat dari satu orang ke orang lainnya di situlah mengalir karunia yang menjadi “nilai” bagi manusia. Yang menerima mendapatkan kebutuhannya dan yang memberi mendapatkan “nilai” 700 kali dari apa yang diberikan.
Terhadap segala karunia Allah, akan dimintai pertanggungjawaban DIPAKAI UNTUK APA?, namun khusus terhadap materi dan uang akan ditanya DIDAPAT DARIMANA DAN DIPAKAI APA?
Ketika kita berinfak, tidak “sampai” kepada Allah apa yang kita infakkan karena apa yang kita infakkan pun tak lain adalah milik Allah!. Yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaan yang bersemayam dalam hati. Yang dengan taqwa itu seseorang menafikan rasa ‘sayang’-nya pada harta, tak menghiraukan bisikan syetan untuk takut kekurangan dengan berinfak tersebut, menghancurkan kebakhilannya dan memenangkan rasa berhamba dan ketaatannya kepada Allah. Nilai ketaqwaan inilah yang bernilai di sisi Allah.
Innallaha laa yandhuru ila suwarikum wa amwalikum, walakin yandhuru ila qulubikum wa a’malikum
(Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada wajah-wajahmu dan harta-hartamu, melainkan memandang kepada hati dan amal-amal kalian)
Inna akramakum indallahi atqookum
(Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian).

0 Comments:
Post a Comment
<< Home