sahabatsemua

Tuesday, May 30, 2006

paradox

Dalam ujian, soal yang dikerjakan dengan benar dinilai 2, jika dikerjakan salah dinilai minus 1 dan jika tidak dikerjakan dinilai nol. Total nilai tertinggi 100, ini adalah nilai yang diharapkan dan bukan mustahil mengingat semua soal adalah pelajaran yang sudah diberikan. total nilai 80 adalah lumayan, tapi di bawah 70 tentu belumlah memadai, apalagi jika hanya ada 20 atau 10, terlalu jauh dari harapan. Lalu jika toal nilai adalah nol?, ironis sekali karena seperti tak mengerjakan apapun. Namun ada yang lebih buruk yakni total nilai adalah negatif! maka paradox-lah namanya. Ini ilustrasi untuk menggambarkan paradox, realita yang berlawanan dengan keharusan (meski ilustrasi ini tak memadai dengan apa yang akan dibicarakan). Semakin tinggi nilai yang diharapkan namun semakin negatif apa yang diberikan, maka semakin besarlah paradox yang terjadi.

Ini tentang apa yang kita terima dan apa yang kita lakukan/berikan. Ini ilustrasi berikutnya.
.
Ketika kita sakit, terlebih sakit berat yang berlangsung lama, telah berobat ke sana kemari tak jua sembuh. Kemudian ada orang yang menolong memberikan obat yang menyembuhkan penyakit itu. Pasti rasa terimakasih kita takkan terkira pada orang tersebut. Apalagi jika ingat penderitaan saat sakit, rasanya mau melakukan apa saja yang kita bisa untuk orang itu sebagai rasa terimakasih. Jika dia dalam kesulitan akan kita bantu, jika dia minta sesuatu yang kita mampu pasti kita penuhi dengan sukacita, dengan senang hati. Akan tumbuh dalam hati kita rasa sayang padanya.
·
Ketika mesti melunasi biaya rumah sakit untuk seorang anggota keluarga kita agar bisa terus dirawat, ketika kita harus melunasi biaya sekolah anggota keluarga kita agar bisa ikut ujian, ketika kita harus membayar utang-utang yang jatuh tempo agar aset tidak disita, ketika tak tersisa uang untuk sekedar makan sehari-hari dan transportasi, ugh berat terasa masalah itu, tak terkira sedihnya melihat anggota keluarga kita, tanggungjawab kita dalam penderitan seperti itu. Tiba-tiba datang orang tanpa pamrih mengulurkan tangan, memberikan uang “pakai saja dulu gak usah fikir kapan kembalikan”. Tentu kita bakal menganggapnya dewa penolong. Jika ada kesempatan kita akan “bela” dan “loyal” padanya sebagai tanda terimakasih.

Dalam ilustrasi di atas tersebut, apa yang digambarkan sebagai apa yang akan kita perbuat adalah sebagai usaha kita mengimbangi apa yang telah kita terima, sebagai rasa terimakasih kita, rasa syukur kita. Meski tak mungkin kebaikan itu terbalas (mengingat kritisnya kondisi kita saat mendapatkan pertolongan itu). Ibarat kita berusaha mencapai nilai positif 100 meski yang tercapai tidaklah 100. Ironis jika kita tak melakukan apa-apa sebagai rasa terimakasih untuk orang yang memberi pertolongan pada kita, apalagi di saat orang tersebut memerlukan dan kesulitan, jika demikian nilai kita nol. Dan adalah paradox jika sampai kita justru bertindak sebaliknya, menjerumuskan, mencelakakannya dan mengabaikan apa yang menjadi keinginannya. Kita diberi karunia, lalu karunia itu kita gunakan untuk berdurhaka pada Pemberinya. Paradox itu tak terbayangkan besarnya.

Paradox itulah yang sedang terjadi dalam hidup kita. Kita mendapat penyelamatan, mendapat karunia yang tiada terkira dan tidak terjeda setiap saatnya dari Allah. Jauh melebihi pertolongan di saat kritis dalam ilustrasi di atas. Tapi yang kita kerjakan bukan seperti apa yang Dia kehendaki tapi justru melakukan apa yang Dia larang. Paradox itu lebih parah lagi mengingat apa yang Dia kehendaki hakikatnya untuk kebaikan kita sendiri dan apa yang Dia larang adalah karena sesuatu itu buruk untuk kita (sementara Dia sendiri terbebas dari kepentingan, terbebas dari mendapatkan-kehilangan ataupun untung-rugi).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home