sahabatsemua

Thursday, September 21, 2006

bahasa emang gak beli

“Bahasa kan tidak beli, jadi apa sulitnya menyapa”, bener banget tuh. Banyak sekali kebajikan yang sebenarnya tanpa biaya tapi kita melewatkannya. Sebaliknya terlalu banyak kesia-siaan bahkan kemaksiatan yang justru sangat mahal tapi digandrungi dan kita lakukan. Secara tak sadar kita memang tak berfikir logis, tidak taktis dalam mengarungi hidup ini, tidak rasional sama sekali.
.
Jadi di mana masalahnya?, ya di tidak mau itu sendiri. Jika tidak mau, betapa beratnya mohon maaf atau memaafkan. Jika tidak mau, betapa sulitnya menyapa orang yang menyalahi kita. Jika tidak mau, betapa beratnya beli garam ke warung saat di suruh ibu kita dahulu. Jika sedang ogah, betapa “horeamnya” shalat. Jika tidak mau, jika tidak rela hal seringan apapun menjadi sulit dan berat.
.
Lalu apa penyebab tidak mau itu?
Kadang kemalasan, kadang keangkuhan, kadang ego, kadang gengsi, kadang kesombongan, kadang malu yang tidak pada tempatnya, kadang jiwa yang dikerdilkan amarah, kadang ketidakrasionalan sikap kita sendiri. Tanpa sadar kita memenangkan suatu yang mencelakakan diri kita sendiri dan mengalahkan suatu yang sebenarnya bisa memuliakan diri kita. Sambil merasa kita sedang membela hak kita, membela harga diri kita, membela kebenaran kita. Naudzubillah min dzalik.
.
Pertengkaran, pertikaian, perkelahian, pembunuhan bahkan perang sering dipicu oleh hal yang teramat sepele. Karena urusan seribu perak ada yang terbunuh. Karena urusan seorang penumpang ada yang baku hantam. Karena urusan charger bekas pertemanan hancur. Karena urusan omongan usil yang mungkin sekedar bercanda terjadi adu mulut. Karena kaki terinjak saling ngotot. Begitu sepele bagi kita yang tak terlibat secara emosional, kita anggap itu keterlaluan. Tapi percayalah itu bukan hal sepele bagi yang bersangkutan. Itu terlihat begitu besar, bukan lagi seribu perak, seorang penumpang atau hal lainnya lagi yang terlihat, tapi ego, harga diri dan rasa benar yang dimilikinya. Dari situlah syetan masuk membisikkan dan mengobarkan kemarahan. Dan setelah api kemarahan besar, akal mundur ke belakang, nurani tersingkirkan. Api kemarahan harus menemukan pemuasannya. Ribut-ribut deh urusan belakangan. Enak saja ni orang harus diberi pelajaran. Ayo deh gue hadapi maunya loe apa dst kata-kata pamungkas yang ada di kepalanya saat itu. Padahal kan, coba apa yang dibela? Apa untungnya?. Ributnya saja sudah bikin malu, kalau sampai ada korban urusannya panjang mengganggu kehidupan normal yang bersangkutan sendiri. Begitulah emosi yang terpicu dan tak segera kita kendalikan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home