sahabatsemua

Monday, January 15, 2007

yuk tanpa pretensi

Diabaikan, bukan suatu yang menyenangkan memang, apalagi jika kita berada dalam posisi “tak ingin diabaikan”, posisi ingin dihargai. Ingin dihargai adalah manusiawi, setiap orang ingin dihargai. Tapi tak berarti kita mesti tunduk pada keinginan itu. Maksud tunduk adalah kita menjadi terluka ketika usaha-usaha dan sikap terbaik yang coba kita lakukan tak mendapat penghargaan orang lain, kita justru diabaikan begitu saja.
.
Ingin dihargai adalah salah satu keinginan yang diujikan untuk mengetahui sejauh mana keikhlasan kita beramaliah. Benarkah kita beramaliah hanya sejauh ingin dihargai orang lain atau sungguh melakukan tulus karena kecintaan dan kewajiban. Benarkah amaliah kita hanya karena ingin mendapat apresiasi orang lain atau sungguh ikhlas melakukan karena Allah memerintahkan. Ketulusan justru teruji saat ada pengabaian dan penyepelean. Semakin “santai” dan tak terusik oleh perasaan tak enak apalagi sakit hati ketika menerima pengabaian, semakin tinggi dan sempurna ketulusan dan keikhlasan kita. Sebaliknya perasaan terganggu dan sakit hati menunjukkan ketidakikhlasan masih ada dalam jiwa kita.
.
Bagi pengikhlas sejati dihargai atau tidak, diapresiasi atau tidak, diabaikan atau tidak, tidak lagi menjadi bagian kalkulasi dan pertimbangan dalam melakukan tindakan. Kalkulasinya hanya satu, Allah. Haruskah, benarkah, bermanfaatkah, itulah yang menjadi azas tindakannya.
.
Jadi?
Semakin pandai kamu mengabaikan “pengabaian” orang lain, semakin terlatih kamu untuk bertindak ikhlas, bertindak tanpa pretensi.
.
Namun bukan berarti kita bebas dan harus menguji keikhlasan setiap orang dengan tak menghargai mereka lho!. Itu sih namanya tak tau adab!

Duhai Rabbi

Rabbi…
Tak satu yang tahu selain Engkau
Aku bahagia dengan-Mu
Cukuplah itu Rabbi
Segala kemuliaan adalah kepunyaan-Mu
Segala kebahagiaan adalah milik-Mu
Segala jalan keluar ada pada-Mu
Jangan biarkan aku pergi selain kepada-Mu…

Inilah jalan itu...

Selalu kukatakan “inilah jalan itu”, jalan yang selalu dicari setiap orang, jalan yang selalu diperjuangkan setiap orang. Jalan kedamaian dan kebahagiaan, jalan menuju-Nya. Ada banyak jalan memang, tapi ini seperti jalan tol, jalan terlurus dan tersepat kepada-Nya.
.
Begitulah selalu kukatakan “inilah jalannya” setiap kutemui kesulitan. Kesulitan apapun, kesulitan sebesar apapun, kesulitan atas apapun, kesulitan menghadapi siapapun. Di pagi hari atau sore hari, di siang bolong atau di malam gulita, di kesendirian atau di keramaian, di rumah atau di jalanan, di rantau atau di kampung halaman, serumit apapun, selalu kukatakan “inilah jalannya”. Ketika kesulitan mengatasi perasaan, ketika kesulitan menenangkan hati yang bergolak, ketika kesulitan menepis goda, ketika kesulitan menyelesaikan kerja, ketika kesulitan mengajak diri istiqomah, ketika kesulitan membujuk diri untuk bersabar dan tenang, ketika kesulitan menahan amarah, ketika kesulitan menundukkan pandangan, ketika kesulitan mengatasi emosi, ketika kesulitan konsentrasi hanya kepada-Nya, selalu kukatakan “inilah saatnya”. Ketika kesulitan datang di atas kesulitan, ketika kesulitan yang lebih besar datang persis di waktu kesulitan lain sedang memuncak, ketika kesulitan satu bersatu dengan kesulitan lainnya, ketika kesulitan yang satu berkolaborasi dengan deretan kesulitan lainnya…
.
Maka selalu kuajak engkau tersenyum, karena inilah jalan itu. Inilah saat dimana pintu-pintu kemudahan dibuka, inilah tempat dimana doa-doa dikabulkan, inilah tanda waktu pertolongan-Nya telah semakin dekat, inilah saat membuktikan Allah lah tuhanmu, inilah moment kemuliaan berada. Tabahlah, sabarlah, bahkan rela dan ridhalah.
.
Biarkan sosok itu berjalan tepat di hadapanmu, tak ada yang menghalangimu untuk merintih pada-Nya. Terimalah kenyataan itu, senyumlah dalam moment itu, berterimakasihlah pada-Nya atas hal terbaik itu. Engkau boleh jadi menangis, tak ada yang melarang itu, Dia mendengar segala kesahmu yang tak terucap sekalipun, dan Dia menyukai airmatamu yang hanya kepada-Nya. Sisipkan seuntai doa tertulusmu untuknya, ucapkan dengan segenap kecintaan, “teriakkan” doa itu dalam jiwamu moga Dia mencintainya, menuntunnya untuk selalu melakukan apa yang Dia cintai, membuatnya semakin cinta pada-Nya, dan membuat Dia pun mencintainya… sampailah pada cinta tanpa pretensi…
.
sekarang saatnya bangun malam dengan taratur. Tak apa motifmu masih “ingin selesainya segala kesulitan”. Anggap saja beginilah cara Dia menggiringmu ke lautan cinta. Sebelum kamu membutuhkan itu karena memang begitu dahsyat kenikmatannya.
.
Maka tersenyumlah karena “inilah jalan itu”…

SELAMAT TAHUN BARU 2007

Setiap waktu adalah baru, tak ada waktu yang kadaluarsa karena memang senantiasa terbaharu, bahkan jikapun sampai seperseribu detik tingkat ketelitiannya, akan ditemukan bahwa waktu senantiasa terbaharui. Tahun baru 2007, bukan tahun Islam, tapi waktu itu sendiri adalah sangat Islami, adalah mahluk yang sangat tunduk kepada Penciptanya, Islami. Dan muhasabah tentang waktu, di manapun titiknya (toh senantiasa baru) menjadi suatu yang sangat Islami. Muhasabah, suatu yang bersifat introspektif terhadap kesalahan dan kekurangan masa lalu, serta kontemplatif untuk merumuskan perbaikan masa datang menjadi sangat penting bagi kehidupan siapa saja. Merupakan transendensi dari hidup yang sekedar hidup menjadi hidup yang menjadi hidup. Sekedar hidup dalam arti tak menghasilkan hidup di kehidupan abadi (laa yamutu fiiha wa laa yahya). Menjadi hidup dalam arti membuahkan kebahagiaan hidup hakiki di kehidupan abadi.

Apa yang terjadi di setahun lalu:

Terlalu banyak kesalahan dan dosa yang telah dilakukan, dengan ini tak pantas rasanya tertawa lebar. Tertawa lebar di tengah ancaman siksa pedih-Nya? Airmata penyesalan lebih pantas atas itu semua.

Terlalu banyak nikmat yang harus disyukuri. Bayangkan gelimangan karunia itu. Tak usah di sepanjang tahun, di satu detik momen kehidupan saja tak terkira!. Dan lihat apakah lebih banyak ridhamu atau keluhmu atas segala iradah-Nya itu?

Terlalu banyak kebutuhanmu kepada-Nya, kebutuhanmu tak terbatas pada-Nya!. Lalu seberapa intens kamu meminta? Jangan-jangan semua sambil lalu belaka…

Rasanya semua terlihat semakin ironis, di tengah karunia yang tak terkira dari-Nya, di tengah kebutuhanmu yang tak terbatas pada-Nya, engkau lebih banyak melakukan pelanggaran dan alpa pada-Nya (terlalu banyak bahkan), bandingkan dengan kebajikan dan ketaatanmu pada-Nya yang begitu tipis.

Apa yang akan dilakukan setahun ke depan?

Kesalahan dan dosa itu niscaya, tak terelakkan. Hanyutkan dirimu dalam laut penyesalan dan tobat selamanya (nasuha). Biarkan hidupmu penuh airmata ini, airmata yang akan mencuci kekotoranmu di hadapan-Nya.

Senantiasalah tersenyum untuk ekspresikan ridhamu pada-Nya. Hayati dan nikmati karunia kasih sayang-Nya setiap waktu. Lafadzkan tasbih dan hamdalah sebanyak yang engkau bisa, gemakan itu dalam jiwa.

Intenskan doa. Doa sebagai perlambang dan bukti kehambaan, engkau tak ada daya dan hanya Dia yang Berdaya. Doa sebagai alat dan senjata mencapai tujuan. Doa sebagai bukti tak ada kesombongan. Doa sebagai ibadah dan melaksanakan perintah. Doa sebagai saat terdekat dan terintim kita dengan-Nya. Doa sebagai sumber kekuatan dan spirit jiwa kita. Doa sebagai (jalan) penolong atas segala problematika kita. Doa sebagai saat terindah dan ternikmat dalam hidup kita. Doa sebagai panduan dan manual hidup kita. Doa memastikan kita senantiasa berada dalam dzikir kepada-Nya.

Muhasabah berkelanjutan. Memperbaiki diri dengan continue. Senantiasa berdoa di setiap moment kehidupan. Lalu terus menerus membaguskan ibadah.

Ini adalah satu-satunya (rangkaian langkah) pilihan hidup (sebelum mati) ini.