sahabatsemua

Monday, April 03, 2006

jangan dekati

jangan dekati
itu adalah resep terbaik untuk selamat
jangan dekati
itu adalah cara paling tepat agar terhindar
jangan dekati
itu adalah metoda tercerdas
jangan dekati
itu adalah jalan paling aman
.
jangan dekati keburukan
karena jika telah terseret arusnya
karena jika telah tenggelam di dalamnya
karena jika telah terlilit pusarannya
sungguh "nyaris mustahil" untuk keluar darinya
hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan
.
ketika seorang hidup dari harta hasil korup
yang memenuhi kebutuhan hidupnya
yang memungkinkannya memiliki rumah dan mobil mewah
yang membuatnya dapat banyak memberi pada handai taulan
yang membawanya pada status terpandang di masyarakat
lalu
betapa muskilnya meninggalkan semua kesejahteraan yang selama ini dinikmati itu. sebesar dan sekuat apakah keberanian yang harus dimiliki untuk dapat mengembalikan hasil korupnya. sungguh betapa beratnya seandainyapun dalam dirinya masih ingin menempuhi jalan lurus. dan lebih mustahil jika dia telah gembira dengan hasil-hasil kecurangannya itu.
.
seorang yang keranjingan judi
yang selalu menyempatkan diri untuk melakukannya
yang mempertaruhkan peruntungannya di meja judi
yang luar biasa penasaran ketika kalah
dan melambung harapannya jika menang
yang selalu ingin kembali ketika menang ataupun kalah
betapa sulitnya kembali dari keranjingan seperti itu
.
seorang yang zina
yang terlalu biasa berzina sehingga tak lagi berfikir itu salah selama dilakukan suka sama suka
yang tak terfikir bahwa itu merugikan diri dan lingkungannya
yang justru mau "berkorban" untuk memuaskan syahwatnya
betapa tak terkira perjuangan yang harus dilakukan untuk menghentikan itu semua
.
jangan cela mereka,
karena bisa jadi kita tak melakukan hanya karena tak ada kesempatan
jangan cela mereka,
karena keberuntungan sajalah yang membuat kita tak seperti mereka
jangan cela mereka,
karena ketika mereka dapat "kembali" itu bukti nyata bahwa mereka begitu hebat karena dapat keluar dari sesuatu yang kita sendiri mungkin tak dapat lepas jika merada di posisi yang sama
.
celalah perbuatan mereka
dengan tak melakukannya
dengan selamatkan diri dari perbuatan tersebut
dengan menyingkir dari perbuatan itu sejauh-jauhnya
dengan tak mendekati perbuatan itu sama sekali
karena dengan mendekati
sedikit demi sedikit kita akan terseret
terseret dalam apologi dan permisivism
yang lalu jika sudah tenggelam dan terlilit pusarannya
nyaris tak ada celah kita kembali
sekali lagi
jangan dekati
.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home